Peroxisome Proliferators Activated Receptors (PPAR)

Deskripsi

Salah satu reseptor intraseluler yang kini mendapat banyak perhatian adalah Peroxisome proliferators-activated receptors atau PPAR. Dinamakan demikian karena reseptor ini diaktifkan oleh suatu ligan yang dapat menginduksi proliferasi peroxisome di hepar, suatu organel yang terlibat dalam oksidasi asam lemak. Ligan tersebut adalah golongan fibrat, suatu senyawa yang berefek hipolipidemik. Ditemukan pertama kali pada tahun 1990 oleh Isseman dan Green ketika sedang mencari target molekuler untuk agen proliferator peroksisom, reseptor ini terdiri  dari tiga subtipe ( α, β, dan ү ) dan masing-masing memiliki ligan, target gen, dan fungsi biologis yang berbeda. Sebagai contoh, eikosanoid leukotrien B4 adalah ligan dari PPARα, sedangkan prostaglandin J2 adalah ligan untuk PPARү (Ikawati, 2008).

Reseptor PPARү banyak dijumpai di nukleus berbagai sel, terutama di jaringan lemak/adipose, usus halus, dan sel hematopoietik. Reseptor-reseptor ini diaktivasi oleh asam lemak tidak jenuh dan mengontrol bermacam-macam gen target yang terlibat dalam homeostasis lipid dan glukosa (Ikawati, 2008).

Semua reseptor PPAR berada dalam bentuk dimer atau kompleks dengan suatu protein lain yaitu retinoid X receptor (RXR). Signaling reseptor PPAR diregulasi oleh suatu jenis protein yang disebut kofaktor (yang terdiri dari suatu ko-aktivator dan ko-represor). Ikatan dengan ko-aktivator akan mengaktifkan reseptor, sedangkan ikatan dengan ko-represor akan menurunkan aktivitas reseptor (Ikawati, 2008).

Jika PPAR berikatan dengan ligannya, baik alami maupun sintetik, reseptor menjadi teraktivasi dan mengikat suatu hormon respon elemen yang disebut peroxisome proliferative response elements (PPRE) yang spesifik bagi reseptor ini. Setelah kompleks berikatan dengan suatu ko-aktivator, maka ia akan aktif mengatur transkripsi gen yang kemudian akan menghasilkan efek-efek biologis tertentu. Beberapa protein yang telah teridentifikasi sebagai ko-aktivator bagi reseptor PPAR antara lain adalah : CREB binding protein (CBP), P300, steroid receptor coactivator (SRC-1), PPAR binding protein (PBP) dan PPARg coactivator-1 (PGC-1). Sedangkan contoh ko-represor adalah SMRT (silencing mediator for retinoid and thyroid hormone receptor) (Ikawati, 2008).

PPARү cukup menarik perhatian ahli karena ditemukan dapat menjadi target obat-obat golongan tiazolidindion, suatu antidiabetes yang bekerja meningkatkan sensitivitas insulin. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa selain berperan dalam metabolisme lemak dan diferensiasi sel adiposa, aktivasi PPARү juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin (Ikawati, 2008).

Daftar Pustaka

Ikawati, Z. 2008. Pengantar Farmakologi Molekuler. Yogyakarta. UGM Press.

DINA  MAILANA

G1F011064

Silahkan tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: