Action of Epinephrine

Video ini menjelaskan tentang bagaimana hormon epinefrin yang dihasilkan tubuh mampu meningkatkan kadar glukosa dalam darah. Sebelumnya kita harus mengetahui dulu bahwa epinefrin merupakan salah satu hormon yang disekresikan oleh glandula adrenal dan disintesis dari prekursor tirosin dengan bantuan enzim tirosin hidroksilase, dopa dekarboksilase dan dopamine hidroksilase. Salah satu fungsi hormon ini adalah mengatur metabolisme glukosa terutama disaat stress. Keadaan stres akan merangsang pengeluaran hormon epinefrin secara berlebihan. Kemudian sekresi hormon ini akan menaikkan konsentrasi gula darah dengan menaikkan kecepatan glikogenolisis di dalam liver. Mengapa di dalam liver? Karena di dalam liver terdapat banyak reseptor β2 adrenergik dan epinefrin lebih kuat berikatan pada reseptor β2 dibandingkan dengan reseptor yang lain.  Berikut ini adalah penjelasan mekanisme epinefrin lebih lengkapnya.

Sudah diketahui bahwa epinefrin merupakan hormon yang larut dalam air (hidrofilik) sedangkan membran plasma sel bersifat hidrofobik. Karena sifatnya tersebut maka hormon ini tidak dapat begitu saja masuk ke dalam sel. Untuk membantu tranduksi sinyalnya, epinefrin ini mengikat protein reseptor yang terletak di membran plasma, yaitu reseptor adrenegik β2. Ketika epinefrin berikatan dengan reseptor β2 pada liver, reseptor ini akan mengalami aktivasi pada bagian intraselulernya sehingga protein-G  (Gs) akan teraktivasi juga. Protein-G ini terdiri dari 3 subunit, yaitu subunit α,β, dan γ. Subunit Gα berikatan pula dengan GDP. Dengan adanya aktivasi ini GDP akan bertukar dengan GTP. Kemudian subunit protein Gβ dan Gγ akan terdisosiasi, sehingga subunit Gα hanya berikatan dengan GTP sedangkan subunit Gβ berikatan dengan Gγ. Setelah terdisosiasi subunit Gα-GTP akan mengaktifasi adenilat siklase dan menghasilkan cAMP. cAMP ini kemudian akan mengaktifkan PKA (cAMP-dependent Protein Kinase) yang kemudian akan mengkatalisis proses fosforilasi. Pada sel liver, protein kinase-A akan mengaktifkan enzim phosphorylase yang dapat mengubah glikogen menjadi glukosa-6-fosfat. Glukosa-6-fosfat ini akan diubah lagi menjadi glukosa. Proses pembentukan glukosa ini dinamakan glikogenolisis. Setelah terbentuk glukosa, kemudian glukosa tersebut disekresikan ke dalam darah sehingga kadar glukosa dalam darah akan meningkat.

Referensi:

Ikawati, Zullies, 2008, Pengantar Farmakologi Molekuler, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Sukitno, 2009, Hormon Epinefrin (Adrenalin), http://sutikno.blog.uns.ac.id/2009/04/05/hormon-epinefrinadrenalin/, diakses pada 10 Desember 2012.

Oleh : Ruth Febrina
Nim : G1F011006

Silahkan tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: