Reseptor Vitamin D

Rd Alfian PS (G1F011004)

vitamin D bisa berasal dari makanan yang kita makan ataupun disintesis di dalam tubuh kita sendiri. Vitamin D merupakan derivat dari 7-dehydrocholesterol (provitamin D), suatu prekursor kolestrol. Bila kulit terpajan sinar matahari atau sumber penyinaran artifisial tertentu, radiasi ultraviolet memasuki epidermis dan menyebabkan transformasi 7-dehydrocholesterol ke vitamin D3 (cholecalciferol). Vitamin D kemudian di bawa ke hati oleh vitamin D binding protein untuk kemudian di dalam hati dikonversi menjadi 25-hydroxyvitamin D3, metabolit sirkulasi utama dari vitamin D3. Setelah dari hati, 25-hydroxyvitamin D3 di bawa lagi ke ginjal untuk kemudian di rubah menjadi bentuk aktifnya yaitu 1,25-dihydroxyvitamin D3 oleh 1α-hydroxylase yang ada pada ginjal. setelah dalam bentuk aktif, selanjutnya 1,25-dihydroxyvitamin D3 dibawa oleh vitamin D binding protein ke sel targetnya untuk kemudian berikatan dengan vitamin D Reseptor (VDR). Setelah berikatan dengan reseptornya, vitamin D yang telah aktif di bawa oleh VDR ke dalam inti sel. Di dalam inti sel, VDR berinteraksi dengan reseptor asam retinoic X (RXR) ke bentuk kompleks heterodinamik (RXR-VDR) dan berikatan dengan koaktivator dan korepresornya sehingga bisa berikatan dengan DNA sel target dan menimbulkan respon seluler. Respon seluler yang terjadi bila vitamin D berikatan dengan reseptornya berbeda-beda tergantung sel targetnya. Di ginjal, vitamin D berfungsi untuk mengatur reabsorbsi kalsium; di sistem pencernaan berfungsi untuk mengatur reabsorbsi kalsium dan fosfor; di tulang berfungsi untuk mengatur pembongkaran dan penyusunan tulang; di kelenjar paratioid berfungsi untuk sintesis dan supresi hormon paratioid dan poliferasi kelenjar paratioid sel; di sistem kardiovaskuler vitamin D digunakan untuk mengontrol renin angiotensin aldosteron system (RAAS); pada sistem imun untuk diferensial sel T, aktifasi makrofag, dan produksi sitokin. Reseptor vitamin D selain di tulang, juga tedapat di kelenjar pankreas, otot rangka, paru-paru, sistem saraf pusat, dan kulit. Selain berperan dalam proses biologis, vitamin D juga berperan dalam proses fisiologi yang masih diteliti lebih lanjut.

Silahkan tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: