Regulasi Tekanan Darah (Sistem RAAS)

Rangkaian dari seluruh sistem renin sampai menjadi angiotensin II dikenal dengan Renin Angiotensin Aldosteron System (RAAS). Sistem tersebut memegang peranan penting dalam patogenesis hipertensi baik sebagai salah satu penyebab timbulnya hipertensi, maupun dalam perjalanan penyakitnya (Ismahun, 2001). RAAS merupakan sistem hormonal yang kompleks berperan dalam mengontrol sism kardiovaskular, ginjal, kelenjar andrenal, dan regulasi tekanan darah (Kostova et al. 2005).

Pelepasan renin dari ginjal yang bertindak sebagai enzim dan memotong 10 residu pertama asam amino angiotensinogen (protein yang dibuat dalam hati, dan yang beredar dalam darah). Sejumlah 10 residu ini kemudian dikenal sebagai angiotensin I. Angiotensin I kemudian diubah menjadi angiotensin II oleh angiotensin converting enzyme (ACE) yang menghilangkan residu – residu lebih lanjut dan ditemukan dalam sirkulasi paru serta dalam endotelium pembuluh darah.

Fungsi angiotensin II adalah : Meningkatkan efek saraf simpatis diantaranya : vasokonstriksi (penyempitan pembuluh darah), yang dapat menyebabkan tekanan darah meningkat dan hipertensi; Konstriksi arteriol eferen ginjal, menyebabkan tekanan perfusi meningkat pada glomeruli .

Fungsi AT II lainnya: Renovasi ventrikel jantung, yang dapat menyebabkan hipertrofi ventrikel dan CHF; rangsangan dari korteks adrenal untuk melepaskan aldosteron,yaitu  hormon yang bekerja pada tubulus ginjal untuk mempertahankan ion natrium dan klorida dan mengekskresikan kalium; Jika natrium reabsorpsi maka akan diikuti masuknya air ke dalam pembuluh darah sehingga air juga dipertahankan, yang menyebabkan volume darah meningkat, maka tekanan darah meningkat; stimulasi hipofisis posterior untuk melepaskan vasopresin (juga dikenal sebagai anti-diuretik hormon (ADH)) yang juga bekerja pada ginjal untuk meningkatkan reabsorbsi air.

ACE inhibitor menghambat konversi angiotensin I menjadi angiotensin II. Mereka resistensi arteriol Oleh karena itu lebih rendah dan meningkatkan kapasitas vena; meningkatkan output jantung dan cardiac index, bekerja stroke dan volume, resistensi renovaskular lebih rendah, dan menyebabkan peningkatan natriuresis (ekskresi natrium dalam urin).

Menggunakan inhibitor ACE, efek angiotensin II dicegah, menyebabkan tekanan darah menurun. Studi epidemiologis dan klinis telah menunjukkan bahwa ACE inhibitor mengurangi kemajuan nefropati diabetik secara independen dari efek menurunkan tekanan darah. Aksi ACE inhibitor digunakan dalam pencegahan gagal ginjal, diabetes. ACE inhibitors telah terbukti efektif untuk indikasi lain dari hipertensi bahkan pada pasien dengan tekanan darah normal. Sistem secara umum bertujuan untuk meningkatkan tekanan darah dengan meningkatkan jumlah garam dan air tubuh mempertahankan, walaupun angiotensin juga sangat baik menyebabkan pembuluh darah untuk mengencangkan (suatu vasokonstriktor kuat) (Anderson, 2002).

Captopril adalah derivate prolin yang merupakan ACE-Inhibitor pertama yang digunakan. Catopril digunakan pada hipertensi ringan sampai berat dan pada dekompensasi jantung.

Senyawa penghambat ACE, seperti captopril, enalapril, lisinopril, perindopril, ramipril, kuinapril, benazepril, fosinopril, silazapril dan delapril merupakan antihipertensi yang kuat dengan efek samping relatif ringan, seperti kelesuan, sakit kepala, diare, batuk dan mual. Captopril mengandung gugus SH yang dapat berinteraksi membentuk kelat dengan ion Zn dalam tempat aktif ACE, terjadi hambatan secara kompetitif ACE sehingga peredaran angiotensin II dan kadar aldostron menurun. Akibatnya tidak terjadi vasokonstriksi dan retensi Na, sehingga tekanan darah menurun. Mekanisme yang lain dari senyawa penghambat ACE adalah menghambat pemecahan bradikinin menjadi fragmen tidak aktif,sehingga kadar bradikinin dalam darah meningkat,menyebabkan vasodilatasi dan penurunan tekanan darah (Siswandono, 2008).

Namun, pengingkatan bradikinin ini membuat captopril mempunyai efek bantuk, karena bradikinin memicu timbulnya batuk.

Pustaka

Siswandono, 2008, Kimia Medisinal Jilid 2, Surabaya : Airlangga University Press.

Anderson, P.O., Knoben, J.E., and Troutman, W.G., 2002, Handbook of Clinical Drug Data, 10th edition, 326-327, McGraw-Hill Companies, Inc., USA

Kostova E., Javanoska E., Zafirov D, Jakovski K, Maleva, and Slaninka-Miceska M. 2005. Dual inhibition of angiotensin converting enzyme and neutral endopeptidase produces effective blood pressure control in spontaneously hypertensive rats. Bratisl Lek listy, 106(12): 407-411

Goodfriend, T.L., Elliott, M.E., Catt, K.J., 1996, Angiotensin Receptors and Their AntagonistsN Engl J Med, 334: 1649-1655

Oleh: Sartika, Hanif Hafiidh, Rendi Nurhidayat, Dien Puspita C.

One comment

  1. kapan saya berhenti minum obat hipertensi

Silahkan tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: