Diuretic Action in Ion Channel

DESKRIPSI :

Rifka Husniati NIM : G1F011025

Unit terkecil dari ginjal adalah nefron. Setiap nefron memiliki dua komponen utama yaitu bagian glomerulus yang dilalui sejumlah besar cairan yang difiltrasi dari darah dan bagian tubulus yang panjang di mana cairan hasil filtrasi diubah menjadi urin dalam perjalanannya menuju pelvis.Glomerulus tersusun dari suatu jaringan kapiler glomerulus yang bercabang dan beranastomosa yang memiliki tekanan hidrostatik lebih tinggi dibandingkan jaringan kapiler lainnya. Kapiler glomerulus dilapisi oleh sel-sel epitel dan dibungkus dalam kapsula Bowman. Cairan yang difiltrasi dari kapiler glomerulus mengalir ke dalam kapsula Bowman dan kemudian masuk ke tubulus proksimal, yang terletak di korteks ginjal (Guyton, 2006).

Dari tubulus proksimal, cairan mengalir ke ansa Henle yang masuk ke dalam medulla renalis. Setiap lengkung terdiri atas cabang desenden dan asenden. Dinding cabang desenden sampai ujung cabang asenden merupakan bagian ansa Henle yang paling tipis. Pada perjalanan kembali ke cabang asenden, dinding akan kembali menebal seperti bagian lain dari sistem tubular sehingga bagian cabang asenden merupakan bagian yang paling tebal dari ansa Henle. Dari ansa helen, cairan akan menuju ke makula densa dan kemudian ke tubulus distal. Selanjutnya cairan akan menuju tubulus rektus, tubulus kolingentes, dan berakhir di papilla renalis. Setiap ginjal memiliki sekitar 250 duktus kolingentes yang sangat besar dan masing-masingnya mengumpulkan urin dari sekitar 4.000 nefron (Guyton, 2006).

Diuretik merupakan suatu zat yang dapat meningkatkan laju produksi volume urin. Selain itu diuretik juga dapat meningkatkan ekskresi bahan terlarut dalam urin seperti natrium dan klorida. Secara klinis, diuretik bekerja dengan menurunkan laju reabsorbsi natrium dari tubulus sehingga natriuresis dan kemudian menimbulkan efek dieresis. Diuretik digunakan untuk mengurangi edema pada gagal jantung kongestif, beberapa penyakit ginjal, dan sirosis hepatis. Berdasarkan mekanisme kerjanya diuretik dapat dibedakan menjadi 5 macam, yaitu diuretik osmotik, diuretik inhibitor karbonat anhidrase, diuretik Loop, diuretik thiazid, dan diuretik hemat kalium. Yang dijelaskan dalam video ini mekanisme aksi dari tiga jenis diuretik yang sering digunakan dalam pengobatan adalah diuretik Loop, diuretik thiazid, dan diuretik hemat kalium (Siswandono, 1995).

 

Diuretik LOOP

Obat yang bekerja di loop menghambat reabsorbsi NaCl dalam ansa Henle asendens tebal. Segmen ini memiliki kapasitas yang besar untuk mengabsorbsi NaCl sehingga obat yang bekerja pada tempat ini menyebabkan diuresis yang lebih hebat dari diuretik lainnya. Diuretik loop bekerja pada membran lumen dengan cara menghambat kotranspor Na + / K + / 2Cl  . (Na + secara aktif ditranspor keluar sel kedalam interstisium oleh pompa yang tergantung pada Na + / K + – ATPase dimembran basolateral).Spesifisitas diuretik loop disebabkan oleh konsentrasi lokalnya yang tinggi dalam tubulus ginjal. Akan tetapi, pada dosis tinggi, obat ini dapat menginduksi perubahan komposisi elektrolit dalam endolimfe dan menyebabkan ketulian. Obat yang bekerja di loop dapat menyebabkan hiponatremia, hipotensi, hipovolemia, dan hipokalemia. Contoh obat diuretik golongan ini adalah furosemid dan bumetanid (Neal, 2006).

Diuretik TIAZID

Diuretik tiazid bekerja terutama pada segmen awal tubulus distal, dimana tiazid menghambat reabsorbsi NaCl dengan terikat pada sinporter yang berperan untuk kotranspor Na + / Cl  elektron netral. Terjadi peningkatan ekresi Cl  , Na + dan disertai H 2 O. Beban Na + yang meningkat dalam tubulus distal menstimulasi perubahan Na + dengan K + dan H + , meningkatnkan sekresinya dan menyebabkan hipokalemia dan alkalosis metabolik. Diuretik turunan tiazid mengandung gugus sulfamil sehingga dapat menghambat enzim karbonik anhidrase dan bekerja pada tubulus distal. Efek samping yang ditimbulkan berupa hipokalemia dan gangguan keseimbangan elektrolit. Contoh diuretik tiazid adalah klorotiazid, flumetiazid, politiazid, dan klortalidon (Siswandono 1995).

Diuretik HEMAT KALIUM

Diuretik ini bekerja pada segmen yang berespon terhadap aldosteron pada nefron distal, dimana homeostasis K + dikendalikan. Aldosteron menstimulasi reabsorbsi Na + , membangkitkan potensial negatif dalam lumen, yang mengarahkan ion K + dan H + kedalam lumen (dan kemudian ekskresinya).Diuretik hemat kalium menurunkan reabsorbsi Na + dengan mengantagonis aldosteron (spironolakton) atau memblok kanal Na + (amilorid, triamteren). Hal ini menyebabkan potensial listrik epitel tubulus menurun, sehingga gaya untuk sekresi K + berkurang. Obat ini dapat menyebabkan hiper kalemia berat, terutama pada pasien dengan gangguan ginjal. Hiperkalemia juga dapat terjadi bila pasien juga mengonsumsi inhibitor ACE misalnya kaptopril karena obat ini menurunkan sekresi aldosteron (dan selanjutnya eksresi K + ) (Neal, 2006).

Daftar pustaka

Guyton, Arthur C.; Hall, John E. (2006). Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology with Student Consult Online Access (11th ed.). Elsevier Saunders. Philadelphia.

Neal, M. J. 2006. Farmakologi At A Glance. Blackwell Science. Oxford.

Siswandono, Bambang Sukardjo. 1995. Kimia Medisinal. Airlangga Press. Surabaya.

 

One comment

  1. Reblogged this on wildaszone and commented:
    belajar farmakologi molekuler ^^

Silahkan tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: