The Action Potential

Nama : Sintiya Utami
NIM : G1F011020

Potensial aksi merupakan perubahan yang cepat pada potensial membran suatu sel otot atau sel saraf. Di mana terjadinya potensial aksi ditandai dengan perubahan mendadak dari potensial membran istirahat normal (resting potential) menjadi potensial membran positif (depolarisasi) lalu kemudian berakhir dengan kecepatan yang hampir sama kembali ke potensial membran negatif (repolarisasi). Perubahan potensial elektrik tersebut disebabkan perubahan konsentrasi elektrolit di dalam maupun di luar sel. Elektrolit utama yang berperan terhadap perbedaan potensial antara dalam dengan luar sel membran eksitabel adalah Natrium (Na+), Kalium (K+), dan Klorida (Cl-). Untuk menghantarkan sinyal saraf, potensial aksi bergerak sepanjang serat saraf sampai tiba di ujung saraf (Ayu,2011).

Pada video tersebut, kita akan melihat peristiwa potensial aksi pada sel saraf, lebih tepatnya pada akson. Pada kondisi istirahat, konsentrasi ion Na+ di dalam sel, jumlahnya lebih besar dibandingkan diluar sel dan sebaliknya untuk ion K+ yang jumlahnya lebih besar diluar sel dibandingkan di dalam sel. Ion-ion tersebut tentunya akan terus mengalami perpindahan. Untuk mempertahankan kondisi homeostasis sel, maka diperlukan sistem transport aktif yang akan memindahkan ion-ion tersebut melawan gradien konsentrasi. Perpindahan ion-ion tersebut yang melawan gradien konsentrasi (dari yang jumlahnya sedikit ke yang jumlahnya banyak) membutuhkan sebuah transporter, yaitu Na+/K+-ATPase. Kondisi seperti ini disebut resting potential, dengan muatannya sekitar -70 mV.

Masih pada sel saraf yang sama, kita dapat melihat dendrit. Dendrit adalah sisi aktif sel saraf yang akan meneruskan sinyal menuju badan sel, lebih tepatnya pada axon hillok. Bagian ini adalah tempat potensial aksi bermula pada sebuah neuron (Budi,2008). Peristiwa ini juga diawali dari resting potential. Pada saat sel berada dalam kondisi ini, bagian intrasel lebih negatif dibandingkan dengan kompartemen ekstrasel. Perbedaan muatannya adalah sekitar 60-80 mV. Konsentrasi ion Na+ di luar sel, lebih tinggi dibandingkan di dalam sel. Sedangkan konsentrasi ion K+ lebih besar di dalam sel, dibandingkan diluar sel. Perbedaan konsentrasi yang cukup besar tersebut menyebabkan gradient konsentrasi yang sangat besar, sehingga ion Na+ cenderung akan masuk ke dalam, sedangkan ion K+ cenderung akan keluar sesuai dengan arah gradient konsentrasinya. Perpindahan ion-ion tersebut dari dalam ke luar sel atau sebaliknya dilakukan dengan cara difusi fasilitasi, dengan bantuan kanal ion yaitu kanal ion Na+ dan kanal ion K+ (Ikawati,2008).

Jika kanal ion Na+ membuka dan menyebabkan ion Na+ masuk ke dalam sel, maka gradient konsentrasi Na+ di luar dan di dalam sel berkurang. Karena ion Na+ bermuatan positif, maka dia akan menambah muatan positif di dalam kompartemen intrasel, sehingga perbedaan polaritas menjadi berkurang. Berkurangnya perbedaan polaritas pada membrane sel antara intra dan ekstra sel ini disebut depolarisasi membrane. Kanal ion Na+ kemudian akan menutup. Kanal ion K+ selanjutnya akan membuka dan menyebabkan kembalinya polaritas atau repolarisasi. Tetapi jika kanal K+ membuka secara berlebihan, maka ion K+ akan keluar, dan menyebabkan kompartemen di dalam sel semakin negative, sehingga perbedaan polaritas meningkat. Meningkatnya perbedaan polaritas ini disebut hiperpolarisasi membrane(Ikawati,2008). Jika terjadi hiperpolarisasi yang berlebihan, maka sel harus tetap menjaga homeostasisnya melalui cara transport aktif, kemudian kanal ion K+ juga akan menutup sehingga sel bisa kembali ke keadaan resting potensial. Setelah impuls terhantar, bagian yang mengalami depolarisasi akan meng alami fase istirahat kembali dan tidak ada impuls yang lewat. Waktu pemulihan ini dinamakan fase refraktori (Zaifbio,2010).

Potensial aksi merambat secara berurutan saat repolarisasi berlangsung. Melalui mekanisme ini aliran ion lokal menembus membran plasma dan menghasilkan impuls saraf yang merambat sepanjang akson tersebut. Saluran ion yang pembukaan gerbangnya diatur oleh voltase yang menghasilkan potensial aksi hanya berkonsentrasi di sekitar nodus Ranvier. Cairan ekstraseluler juga berhubungan dengan membran akson namun melompat dari satu nodus ke nodus lain melewati daerah yang berinsulasi myelin pada membran di antara nodus itu. Mekanisme ini disebut penghantaran bersalto salvatory conduction (Anonim,2011).

Pustaka:

Anonim.2011. http://gexaiiu.blogspot.com/2011/11/potensial-aksi.html.diakses tanggal 29 Desember 2012

Ayu, F.2011. http://karlinawatiamala.blogspot.com/2011/01/tattoo.html.diakses tanggal 29 Desember 2012

Budi, A.S.2008. http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1833118-anatomi-neuron/.diakses tanggal 29 Desember 2012

Ikawati, Z.2008.Pengantar Farmakologi Molekuler. UGM Press : Yogyakarta

Zaifbio.2010.http://zaifbio.wordpress.com/2010/01/14/sistem-saraf-manusia/.diakses tanggal 29 Desember 2012

Silahkan tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: